Food for School
 
   Kamis, 25 Rabiul Awwal 1431 / 11 March 2010
 
Head Office
Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Blok B-8 Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Email : info@aksicepattanggap.com

Donation
Rekening ACT Aksi Cepat Tanggap :

Bank BNI Syariah
No. Rek. 96110239

Bank Syariah Mandiri
No. Rek. 0040119999

Bank Mandiri
No. Rek. 1280004555808

Bank Muamalat Indonesia
No. Rek. 3040022915

Bank Central Asia
No. Rek. 6760303133

Transfer Internasional BCA
Swift Code : CENAIDJA

Penelusuran
Cari :


Kategori :


Gugah
Muliakan Pengungsi
2009-04-16 19:52:51


Coba Anda tanyakan pada diri sendiri, maukah setiap hari makan mie instan? Kecuali orang yang maniak pada mie instan bisa dipastikan siapapun akan menjawab; Tidak! Bukan sekadar persoalan selera, sebab mie instan pun termasuk salah satu makanan yang –setidaknya bagi ACT- tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada pengungsi.

Kemudian, coba tanyakan kepada pengungsi bahwa senyaman-nyamannya tempat berteduh adalah rumah, bukan tenda darurat. Jadi bila masih memungkinkan kita memberikan tempat yang lebih layak, kenapa harus memaksakan pengungsi berlama-lama di tempat yang tak semestinya?

Mohon maaf sebesar-besarnya bagi beberapa pihak donatur yang sempat tertahan bantuannya, terutama berkenaan dengan pakaian layak pakai. Sebab, bantuan berupa pakaian layak pakai sudah menggunung dan bahkan pengungsi sudah menolak diberikan lagi pakaian layak pakai itu. Sempat seorang relawan ACT berkelakar dengan pengungsi, “kalau yang baru mau?” Serempak mereka menjawab, “Jangankan kami, Anda pun tidak menolaknya kan?”

Sebuah pertanyaan yang menjadi bumerang, tertohok kami dibuatnya. Namun sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi para relawan bahwa sebaik-baik memberi adalah yang terbaik dari yang kita miliki. Semoga tidak sedikitpun ada niat memberi yang terburuk, sisa, bekas apalagi semata mengurangi isi lemari dari barang-barang yang tak lagi terpakai.

Logikanya, saat dalam keadaan normal saja setiap orang senantiasa menginginkan yang terbaik untuk kehidupannya. Mulai dari pangan, sandang, papan sampai hubungan antar sesama. Terlebih dalam kondisi yang tidak normal seperti bencana, disaat hati mereka remuk diterjang badai, ketika harapan mereka hancur lebur dihempas gelombang. Perlakuan yang tak hati-hati bisa memicu ketersinggungan, salah ucap sedikit dapat menyulut amarah, bahkan memberi dengan pemberian yang tak pantas pun bisa berarti penghinaan.

Beragam bencana yang pernah ditangani, sebutlah dua contoh tsunami Aceh dan gempa Jogjakarta, memberikan banyak pelajaran berharga bagi ACT dalam menangani bencana. Dan salah satu pelajaran paling berharga adalah sebuah keniscayaan untuk memperlakukan pengungsi selayaknya terhadap diri sendiri. Jika kita tak suka dengan makanan yang ala kadarnya, maka perlakukan pengungsi tak hanya alakadarnya. Bila kita tak biasa mengenakan pakaian ‘bekas’ orang lain, begitu pula dengan pengungsi yang jika tak terpaksa mereka tak akan mengenakannya. Sama halnya dengan tempat berteduh, bangunan berdinding kokoh dan beratap lebih terasa nyaman dari tenda darurat.

Melayani pengungsi tak sekadar memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, di sana ada proses pembelajaran (edukasi) baik untuk pengungsi maupun para relawan yang mengelola pengungsian, juga harus diperhatikan aspek entertainment, mengingat pada umumnya semua korban bencana berada dalam keadaan tertekan dan sedih akibat kehilangan berbagai hal; orang-orang yang dicintai, perniagaan, harta kekayaan, hingga harapannya.

Oleh karena itu, mari mengupayakan memberikan yang terbaik dalam melayani pengungsi dan korban bencana, mulai dari fase darurat (emergency) hingga di fase pemulihan (recovery) yang memiliki rentang waktu tak terbatas. Batasan utamanya adalah kemandirian, karena inilah target dari setiap penanganan bencana. Bahwa setiap pengungsi dimungkinkan untuk segera mandiri, bangkit dari keterpurukan dan tidak tercipta ketergantungan terhadap bantuan orang lain. Pengungsi tidak boleh terus menerus bergantung dari belas kasihan orang lain, begitu juga para lembaga kemanusiaan tidak seharusnya menjadikan pengungsi dan korban bencana sebagai objek penggalangan dana tanpa upaya untuk memberikan pelayanan terbaik.

Bahkan dalam mengevakuasi jenazah korban bencana pun ada etika yang harus diperhatikan. Misalnya, mengangkat jenazah yang meskipun sudah tak bernyawa tetap tak boleh asal mengangkat. Ketika hidup ia berhak dihormati, begitupun ketika sudah menjadi jenazah. Di fase relief pun demikian, berikan bantuan makanan yang bukan ala kadarnya, memenuhi standar gizi, kualitas dan kecukupannya. Di Jogjakarta, sepekan usai gempa, ACT membangun ratusan tahan gempa. Disitu kebutuhan tertinggi bagi pengungsi bertemu dengan keinginan bagi lembaga ini untuk memuliakan pengungsi dengan memberi senyaman-nyamannya tempat.

Maka, masih dalam koridor memuliakan pengungsi itu pula pelayanan yang diberikan terhadap pengungsi di berbagai lokasi lainnya, termasuk para pengungsi Situ Gintung, Tangerang Selatan, Banten. Tentu saja apa yang terbaik dilakukan lembaga ini sangat ditentukan oleh peran maksimal semua jejaring dan mitra peduli ACT dari berbagai kalangan, individu, institusi maupun korporat.

Jika ada pihak yang harus berterima kasih, tentu saja bukan hanya pengungsi. Para dermawan pun berterima kasih atas kesempatan untuk membuktikan kepeduliannya, untuk beramal shalih dan berbagi sebagai bagian dari menjalankan fitrah kemanusiaan. Lembaga-lembaga kemanusiaan seperti ACT pun berterima kasih, baik kepada donatur maupun kepada pengungsi, atas kepercayaan yang besar untuk menangani bencana dari fase darurat hingga fase pemulihan selesai nanti. Tetaplah bersinergi, kita tak pernah merasa lelah selama tetap saling bergandeng tangan dan merapatkan barisan. (gaw)

Informasi Aktual
BNI 46 Datangkan 3 Truk Logistik

Untuk menjaga ketersediaan logistik, BNI 46 dan BAMUIS BNI 46 mengirimkan berbagai logistik yang dibawa 3 truk. Isinya antara lain beras, air mineral, sayur mayur, daging ayam, bubur bayi, telur, minyak goreng, dan lain-lain. Selain itu, truk tersebut juga berisi pembalut, personal hygiene, dan sandang layak pakai. Gempa bumi yang disusul oleh bencana tanah longsor di desa Cikangkareng membuat masyarakat harus mengungsi karena rumah mereka sudah rusak dan khawatir terjadi gempa dan longsor susulan.


Penyaluran Bantuan ACT-Unilever Tembuh Daerah Terpencil

ACT salurkan bantuan kemanusiaan dari Unilever untuk korban bencana gempa di Garut. Sampai saat ini bantuan berupa kebutuhan sehari-hari telah didistribusikan di Kabupaten Garut telah dinikmati para korban gempa  di lima desa di Kabupaten Garut.



Humanitarian Care Society
Daftar Donatur
klik di sini untuk melihat donatur dan donasi mereka.

Daftar Relawan
masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan tenaga kita, segera daftarkan diri anda jangan tunda lagi. klik di sini untuk mendaftar. Klik di sini unutk melihat daftar terdaftar.

Join ACT Mailing List (milis)


Our Partners